LABUAN BAJO | NTTNEWS.NET – Perhelatan Kongres XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, dinilai bukan sekadar agenda konstitusional dua tahunan organisasi.
Forum tertinggi PMKRI tersebut dipandang sebagai momentum strategis untuk mempertegas arah pembangunan nasional yang berpihak pada keadilan sosial, pemerataan, serta penguatan martabat manusia dari wilayah timur Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Sirilus Ladur, Alumni PMKRI Cabang Kupang sekaligus Anggota Alumni Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) PMKRI Labuan Bajo, dalam refleksinya yang diterima NTTNEWS.NET, Kamis (16/7/2026).
Menurut Sirilus, penyelenggaraan Kongres dan MPA di Ruteng memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian kepemimpinan organisasi.
“Perhelatan Kongres XXXIV dan MPA XXXIII PMKRI di Kota Ruteng bukan sekadar agenda seremonial atau rutinitas konstitusi dua tahunan organisasi. Forum tertinggi ini membawa misi ideologis yang sangat mendasar, yakni membaca arah kompas peradaban Indonesia dari beranda Nusa Tenggara Timur,” ujar Sirilus Ladur.
Sebagai alumni yang dibesarkan dalam rahim PMKRI Cabang Kupang dan kini berkarya di Labuan Bajo, Sirilus menilai kepercayaan yang diberikan kepada PMKRI Cabang Ruteng St. Agustinus sebagai tuan rumah merupakan amanah besar yang harus dimaknai sebagai gerakan intelektual yang berpihak pada realitas masyarakat.
“Momentum ini adalah manifesto gerakan intelektual profetik yang berakar pada realitas masyarakat. PMKRI tidak boleh kehilangan keberpihakannya kepada rakyat kecil dan persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi bangsa,” katanya.
Ia menegaskan, tema Kongres dan MPA, “Mempertegas Arah Pembangunan Nasional Menuju Indonesia yang Berdaulat dan Berkeadilan,” lahir dari refleksi terhadap berbagai persoalan bangsa, khususnya ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan masyarakat di wilayah timur Indonesia.
Menurutnya, dipilihnya Ruteng sebagai lokasi penyelenggaraan forum nasional tersebut memiliki nilai simbolis yang kuat.
“Dari bumi Manggarai, kita menyaksikan secara nyata tantangan pemerataan pembangunan, akses pendidikan, pelayanan dasar, hingga keadilan ekologis. Semua itu menjadi alasan mengapa Ruteng sangat strategis sebagai ruang lahirnya gagasan-gagasan besar bagi Indonesia,” ungkapnya.
Sirilus juga menyoroti enam subtema strategis yang menjadi bahan pembahasan dalam MPA, meliputi pembangunan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia, perlindungan martabat manusia, ekologi integral, ekonomi kerakyatan, hingga sektor pariwisata.
Menurutnya, pembahasan tersebut menjadi tantangan bagi kader PMKRI agar tidak hanya menjadi pengamat, tetapi mampu hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mengawal arah pembangunan nasional.
“PMKRI harus mengawal kedaulatan nasional agar tidak terjebak pada bias pembangunan perkotaan semata, tetapi benar-benar menyentuh masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau daerah 3T,” tegasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









