Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gempa M7,7 Guncang Flores: 51 Orang Meninggal, Pemkab Nagekeo Imbau Warga Kembali ke Rumah dengan Tetap Waspada

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260816 195817
Di tengah situasi darurat bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Nagekeo bergerak menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat. Pada Minggu malam (16/8/2026), pemerintah daerah mengeluarkan pengumuman resmi yang disampaikan secara keliling menggunakan kendaraan dinas bernomor polisi DH 869 AW. (foto : Dok. Isth).

NAGEKEO, NTTNEWS.NET – Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan bangunan di sejumlah wilayah.

Di tengah situasi darurat bencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Nagekeo bergerak menyampaikan informasi langsung kepada masyarakat. Pada Minggu malam (16/8/2026), pemerintah daerah mengeluarkan pengumuman resmi yang disampaikan secara keliling menggunakan kendaraan dinas bernomor polisi DH 869 AW.

Pengumuman tersebut ditujukan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Nagekeo agar tetap tenang, tidak panik, serta mengikuti informasi resmi pemerintah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus, dalam pengumuman tersebut melalui Stafnya menyampaikan bahwa peringatan dini tsunami telah dicabut berdasarkan informasi resmi BMKG.

“Selamat malam Bapak, Ibu warga masyarakat Kabupaten Nagekeo. Pengumuman ini berasal dari Bupati Nagekeo dan ditujukan kepada seluruh warga masyarakat Kabupaten Nagekeo,” ujar Staf Simplisius dalam pengumuman yang disampaikan kepada warga.

Ia menjelaskan, setelah potensi tsunami dinyatakan berakhir, masyarakat diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Namun, pemerintah tetap meminta warga meningkatkan kewaspadaan karena masih terdapat kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Baca Juga :  Gempa M7,7 Guncang Flores, BMKG Nyatakan Peringatan Dini Tsunami Berakhir

“Sehubungan dengan gempa yang telah terjadi, pemerintah menyampaikan beberapa hal. Berdasarkan rilis resmi BMKG ditegaskan bahwa potensi tsunami telah dicabut,” katanya.

“Sehubungan dengan hal tersebut, masyarakat diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Namun, untuk mengantisipasi gempa susulan, diharapkan aktivitas tidur dan memasak dapat dilakukan di luar rumah,” lanjutnya.

Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipasi, mengingat kondisi sejumlah bangunan yang mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Pemerintah meminta masyarakat tidak mengambil risiko berada terlalu lama di dalam bangunan yang retak, rusak, atau dinilai tidak aman.

Selain mengimbau masyarakat, Pemerintah Kabupaten Nagekeo juga telah menyiapkan posko pengaduan dan penanganan bencana di halaman Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nagekeo.

Masyarakat diminta segera melaporkan setiap kejadian, kerusakan bangunan, maupun korban yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas dan relawan.

Baca Juga :  Kepala Dihantam 4 Kali! Oknum Pegawai KSOP Labuan Bajo Dilaporkan ke Polisi, Korban Tolak Damai

“Pemerintah telah menyiapkan posko di halaman Kantor BPBD Kabupaten Nagekeo. Diharapkan masyarakat dapat melaporkan berbagai kejadian, kerusakan dan korban jiwa untuk mendapat perhatian lebih lanjut,” kata Staf Simplisius.

Dalam situasi bencana seperti ini, pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya.

Penyebaran kabar bohong atau hoaks dinilai dapat memperburuk situasi, memicu kepanikan dan mengganggu proses penanganan bencana yang sedang dilakukan pemerintah bersama aparat keamanan, tenaga medis, relawan dan berbagai unsur lainnya.

“Dengan disampaikan informasi ini, masyarakat diharapkan tetap tenang dan jangan cepat percaya pada berita-berita bohong atau hoaks yang dapat mengganggu ketenteraman masyarakat serta kerja-kerja pemerintah dan relawan,” tegasnya.

Pemerintah meminta seluruh masyarakat menjadikan informasi resmi sebagai rujukan utama selama masa tanggap darurat. Warga juga diharapkan saling membantu dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

  • Bagikan