Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kunjungi Korban Gempa Bea Waek, DPR RI Bawa Bantuan dan Temui Bidan yang Bertahan di Tengah Puing

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
261b44e0 a146 11f1 aa00 e5ac6ccd95fb
Kepedulian terhadap warga yang terdampak gempa Flores mendorong Andreas Hugo Pareira, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi PDI Perjuangan, Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Timur I (NTT I), turun langsung menemui masyarakat di Posko Kesehatan Desa Bea Waek , Rabu (26/8/2026). (foto : Dok. Isth).

BORONG, NTTNEWS.NET – Duka mendalam masih menyelimuti Kabupaten Nagekeo dan sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026).

Gempa yang begitu kuat itu tidak hanya mengguncang tanah dan merobohkan bangunan, tetapi juga mengguncang kehidupan ribuan warga. Rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung berubah menjadi puing. Fasilitas pelayanan publik mengalami kerusakan, sementara banyak keluarga harus meninggalkan rumah dan bertahan di tempat-tempat pengungsian dengan segala keterbatasan.

Bencana tersebut meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar kerusakan fisik. Ada keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, ada anak-anak yang kehilangan rasa aman, dan ada warga yang hingga kini masih dihantui trauma setiap kali merasakan getaran gempa.

Di tengah suasana penuh ketakutan dan ketidakpastian itu, kebutuhan masyarakat terhadap bantuan terus meningkat. Korban membutuhkan makanan, air bersih, perlengkapan bayi, obat-obatan, hingga pelayanan kesehatan.

Sementara itu, para tenaga kesehatan harus bekerja dalam kondisi yang serba terbatas. Mereka tidak hanya menghadapi kerusakan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga harus menghadapi rasa takut dan trauma yang mereka alami sendiri.

Kondisi itulah yang terlihat di Desa Bea Waek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.

Kepedulian terhadap warga yang terdampak gempa Flores mendorong Andreas Hugo Pareira, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi PDI Perjuangan, Daerah Pemilihan (Dapil) Nusa Tenggara Timur I (NTT I), turun langsung menemui masyarakat, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga :  Di Balik Puing Pustu Bea Waek, Bidan yang Terluka Tetap Bertahan Melayani Warga Korban Gempa

Kunjungan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya memastikan kebutuhan masyarakat terdampak bencana benar-benar mendapat perhatian.

Andreas Hugo Pareira datang didampingi Anton Dehot, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur dari Fraksi PDI Perjuangan yang berasal dari daerah pemilihan Lamba Leda Selatan bersama pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Timur.

Keduanya langsung menuju Posko Kesehatan Desa Bea Waek. Di tempat tersebut, bantuan diserahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, khususnya kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, serta masyarakat yang membutuhkan perlengkapan kebersihan.

Bantuan yang dibawa Andreas Hugo Pareira terdiri dari dua dus rendang, dua dus biskuit ibu hamil, dua dus biskuit balita, satu dus sabun mandi, empat bal pampers, dua jeriken hand sanitizer, dua dus masker, serta empat dus vitamin.

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan besarnya kebutuhan warga pascabencana. Namun, bagi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi sulit, bantuan itu memiliki arti yang jauh lebih besar.

Setiap paket bantuan menjadi tanda bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa-masa sulit setelah bencana.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Maria Avila Goredy, seorang bidan yang akrab disapa Endang, bersama rekan-rekan tenaga kesehatan lainnya yang sejak awal gempa memilih tetap bertahan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Baca Juga :  Meruorah, Indonesia Ferry Property dan InJourney Hospitality Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Gempa NTT

Endang menjadi salah satu sosok yang menghadapi langsung pahitnya bencana. Tubuhnya masih menyimpan luka. Trauma akibat tertimpa reruntuhan belum sepenuhnya hilang. Rasa takut tentu masih ada, terlebih gempa susulan terus terjadi.

Namun, di tengah rasa takut itu, ia memilih untuk tetap berdiri.

Ia memilih untuk tidak meninggalkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Memang kami masih trauma dan luka akibat gempa belum sepenuhnya sembuh. Tetapi masyarakat juga membutuhkan kami. Kami tidak tega meninggalkan mereka dalam kondisi seperti ini,” ujar Endang.

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa berat perjuangan seorang tenaga kesehatan di tengah bencana.

Di saat sebagian warga berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya, Endang dan rekan-rekannya justru kembali mendekati masyarakat untuk memberikan pertolongan.

Padahal, tempat mereka bekerja sendiri sudah tidak lagi aman.

Pustu Bea Waek yang selama ini menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan kini tinggal puing-puing.

Bangunan yang dahulu menjadi tempat para tenaga medis bekerja, tempat warga datang meminta pertolongan ketika sakit, tempat ibu-ibu memeriksakan kehamilan, tempat anak-anak mendapatkan pelayanan kesehatan, sekaligus menjadi tempat tinggal bidan desa, kini tidak dapat digunakan lagi.

Dinding yang dulu berdiri kokoh telah runtuh. Ruang-ruang pelayanan yang dahulu dipenuhi aktivitas masyarakat kini berubah menjadi reruntuhan.

  • Bagikan