Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gempa Flores Rusak Sejumlah Infrastruktur Pertanian di Manggarai Barat, DTPHP Data Irigasi dan Kantor BPP

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
IMG 20260828 124251
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Manggarai Barat, Tarsius Gonsa, S.T. (foto : Dok. Isth).

LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya menimbulkan kerusakan pada rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga berdampak terhadap sejumlah infrastruktur pendukung sektor pertanian di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dampak kerusakan tersebut mulai teridentifikasi pada sejumlah saluran irigasi, kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), hingga fasilitas pendukung pengelolaan pertanian yang tersebar di beberapa kecamatan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Manggarai Barat, Tarsius Gonsa, S.T., yang akrab disapa Tarsi Gonza, mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan terhadap seluruh fasilitas pertanian yang terdampak gempa.

Menurutnya, sejumlah kerusakan telah teridentifikasi, sementara beberapa lokasi lainnya masih dalam proses pendataan di lapangan.

“Gempa Flores ini sangat berdampak terhadap saluran irigasi di beberapa tempat di Manggarai Barat, termasuk sejumlah kantor BPP di kecamatan. Untuk yang sudah teridentifikasi mengalami kerusakan cukup parah, di antaranya Kantor Balai BPP Kecamatan Komodo, tembok pagar BPP Lembor, Kantor BPP Pacar, serta UPO atau Unit Pengelola Pupuk Organik di Kecamatan Pacar,” ujar Tarsius, Jumat (28/8/2026).

Ia menegaskan, data tersebut belum menjadi keseluruhan jumlah kerusakan karena proses verifikasi masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Baca Juga :  Gerindra Peduli Bencana Flores, Fidelis Sukur Salurkan Sembako untuk Korban Gempa di Desa Robo

“Untuk fasilitas lainnya masih dalam pendataan. Jadi, kami belum bisa menyampaikan secara keseluruhan karena teman-teman masih turun melakukan pengecekan dan verifikasi di masing-masing wilayah,” katanya.

Selain bangunan kantor penyuluhan pertanian, kerusakan juga terjadi pada sejumlah jaringan saluran irigasi yang menjadi salah satu infrastruktur penting bagi keberlangsungan aktivitas pertanian masyarakat.

Di Kecamatan Pacar, misalnya, sejumlah saluran irigasi yang terdampak tersebar di Desa Benteng Ndope, Desa Loha, Desa Pacar, Desa Manong, Desa Kombo Selatan, Desa Compang, Desa Golo Lajang, dan Desa Waka.

Sementara di Kecamatan Lembor Selatan, kerusakan saluran irigasi teridentifikasi di wilayah Desa Repi.

Sedangkan di Kecamatan Komodo, salah satu lokasi yang terdampak berada di Desa Watu Nggelek.

Tarsius menjelaskan, kondisi tersebut menjadi perhatian DTPHP karena saluran irigasi memiliki peranan penting dalam mendukung produktivitas pertanian masyarakat, terutama pada wilayah yang menggantungkan kebutuhan air pertanian pada jaringan irigasi.

“Saluran irigasi ini tentu menjadi perhatian kita karena berkaitan langsung dengan aktivitas pertanian masyarakat. Kalau jaringan irigasinya mengalami kerusakan, tentu akan berpengaruh terhadap ketersediaan air dan kegiatan pertanian warga,” jelasnya.

Di tengah kondisi tanggap darurat pascagempa, Tarsius mengatakan konsentrasi jajaran DTPHP untuk sementara tidak hanya diarahkan pada pendataan kerusakan infrastruktur pertanian.

Baca Juga :  Samsat Mabar Tunda Optimalisasi Pajak, SPBU Diminta Prioritaskan Kendaraan Pembawa Bantuan Gempa

Para penyuluh pertanian justru lebih banyak dikerahkan untuk membantu penanganan dampak bencana, terutama dalam mendistribusikan bantuan logistik kepada masyarakat di desa-desa terdampak.

“Untuk saat ini konsentrasi teman-teman belum sepenuhnya ke pendataan kerusakan infrastruktur. Mereka lebih banyak membantu pendistribusian logistik ke desa-desa terdampak,” katanya.

Selain membantu distribusi bantuan, para penyuluh pertanian juga mendapatkan tugas untuk melakukan pendataan dan verifikasi rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.

Menurut Tarsius, pelibatan penyuluh pertanian dalam proses tersebut bukan tanpa alasan. Para penyuluh selama ini bekerja langsung di tengah masyarakat sehingga memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai kondisi warga dan lingkungan di wilayah tugasnya.

“Yang terbaru, teman-teman juga ditugaskan untuk mendata dan memverifikasi rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan. Mereka ini bertugas langsung di desa sehingga tahu persis siapa warga di wilayahnya dan bagaimana kondisi rumah maupun keadaan masyarakat setelah gempa,” ungkapnya.

Data hasil pendataan tersebut selanjutnya dikoordinasikan secara berjenjang melalui pemerintah provinsi dan sistem pendataan yang telah disiapkan pemerintah.

  • Bagikan