Tarsius mengatakan, pihaknya masih terus melakukan rekapitulasi karena data dari seluruh wilayah belum sepenuhnya masuk dan terverifikasi.
“Data yang masuk melalui teman-teman penyuluh ini kita koordinasikan dan diteruskan melalui provinsi. Teman-teman di lapangan juga melakukan pembaruan melalui aplikasi atau portal kementerian. Karena prosesnya masih berjalan, datanya belum semuanya terangkum,” jelasnya.
Tarsius menambahkan, kondisi tanggap darurat membuat pihaknya harus membagi perhatian antara pendataan kerusakan dan membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan akibat bencana.
Ia mengatakan, dibandingkan dengan beberapa daerah lain yang mengalami dampak lebih besar, kondisi kerusakan di Manggarai Barat relatif tidak terlalu berat. Karena itu, tenaga penyuluh dapat lebih fleksibel membantu proses penanganan darurat.
“Karena kita masih dalam masa tanggap darurat, kita dorong teman-teman untuk membantu pendistribusian logistik sehingga masyarakat yang terdampak bisa segera mendapatkan bantuan,” ujarnya.
Menurut dia, kebutuhan masyarakat saat ini harus menjadi perhatian utama. Pendataan kerusakan tetap dilakukan, tetapi bantuan terhadap warga yang sedang berada dalam kondisi sulit tidak boleh ditunda.
“Yang paling banyak mengalami kerusakan adalah rumah-rumah penduduk. Karena itu, berdasarkan keputusan Bapak Bupati, proses verifikasi di lapangan melibatkan penyuluh pertanian dan penyuluh KB,” katanya.
Ia menilai, penyuluh yang selama ini berada di desa memiliki keunggulan karena mereka mengenal masyarakat secara langsung.
“Mereka bertugas di daerah, langsung di desa. Mereka tahu persis warga-warganya, tahu kondisi rumahnya, dan mengetahui keadaan masyarakat. Jadi tidak perlu semuanya dilakukan oleh teman-teman dari kabupaten. Kita cukup mengoordinasikan, sementara mereka yang melakukan verifikasi langsung di lapangan,” jelas Tarsius.
Dalam kesempatan tersebut, Tarsius juga menyampaikan pesan khusus kepada seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di desa-desa.
Ia meminta agar para penyuluh tidak melihat tugas kemanusiaan dalam penanganan bencana sebagai pekerjaan yang berada di luar tanggung jawab mereka.
Menurutnya, bencana merupakan persoalan bersama sehingga seluruh elemen masyarakat harus mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
“Penegasan kami kepada teman-teman PPL di desa, yang pertama adalah mari kita bantu masyarakat yang terkena bencana. Mereka adalah saudara kita semua. Jangan melihat bahwa itu bukan tugas saya,” tegasnya.
Tarsius bahkan mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, semangat solidaritas sesama masyarakat Manggarai dan Flores harus menjadi kekuatan utama.
“Jangan sampai kita berpikir bahwa harus orang dari luar daerah yang datang membantu kita. Mereka datang karena peduli, mereka datang membantu saudara-saudara kita. Lalu kenapa kita yang sesama saudara justru masa bodoh?” katanya.
Ia mengajak seluruh penyuluh dan masyarakat untuk tidak menunggu bantuan dari pihak lain sebelum bergerak membantu warga yang berada di sekitar mereka.
“Kalau ada saudara kita yang membutuhkan bantuan, kita harus menjadi orang pertama yang hadir. Jangan menunggu orang lain. Kita harus menjadi yang terdepan,” tegasnya.
Bagi Tarsius, semangat gotong royong menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan masyarakat setelah bencana. Pemerintah, petugas di lapangan, dan masyarakat harus saling menopang agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.
“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kemanusiaan kita bersama. Kalau kita bisa membantu, maka bantulah. Sekecil apa pun bantuan itu, pasti berarti bagi saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” pungkasnya. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









