Ketika bantuan air datang dan masih berada di dalam tempat penampungan atau wadah air, masyarakat secara bersama-sama membantu menurunkan bantuan tersebut dari kendaraan.
“Bantuan yang datang ini kan air masih dalam penampungan air plastik itu. Mereka dengan gotong royong membantu menurunkan juga dari truk,” ungkapnya.
Menurut Bayu, kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana tidak menghilangkan nilai kebersamaan dan kepedulian masyarakat.
Bayu juga memberikan apresiasi terhadap masyarakat karena tetap menjunjung tinggi aturan dan hukum di tengah kondisi bencana.
“Ini juga merupakan bukti bahwasanya di situasi gempa, masyarakat juga masih menjunjung tinggi kode etik, menjunjung tinggi aturan hukum, tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum,” tegasnya.
Ia menilai sikap tersebut merupakan modal penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Selama menjalankan tugas dari satu wilayah ke wilayah lainnya, Bayu juga memiliki kesempatan melihat langsung kondisi alam Pulau Flores.
Ia mengaku terkesan dengan kesuburan tanah dan sektor pertanian di sejumlah wilayah yang dilaluinya.
“Saya sudah dari ujung ke ujung ya, Mbak. Saya melihat alam Flores ini sangat subur sebetulnya,” katanya.
Dalam perjalanan, Bayu sempat melewati sejumlah wilayah dan melihat hamparan persawahan yang menurutnya sangat subur.
“Waktu itu saya melewati Bajawa kemudian Lembor. Di sana ternyata sawah itu subur sekali. Saya sempat numpang juga makan di rumah makan yang ada di dekat sawah itu. Berasnya ini beras baru,” tuturnya.
Pengalaman sederhana tersebut justru menjadi salah satu kenangan yang paling melekat baginya.
“Nah, ini juga luar biasa. Saya jauh dari Jawa, ternyata di sini ada lumbung padi yang luar biasa dan berasnya enak sekali. Ini yang tidak pernah saya lupakan,” ungkap Bayu.
Selain pertanian, ia juga memuji potensi wisata Flores.
“Kemudian yang kedua, tempat wisatanya juga bagus. Waktu kami di Ende saya sempat mampir ke Danau Kelimutu juga,” katanya.
Namun, karena situasi masih dalam penanganan pascagempa, kunjungan tersebut berlangsung terbatas.
“Walaupun waktu itu sangat terbatas karena masih ada gempa. Sehingga kami hanya boleh masuk sampai jam 12.00 siang. Setelah itu disuruh kembali karena khawatir kalau ada gempa sore nanti lebih repot untuk evakuasinya,” jelasnya.
Menurut Bayu, kondisi tersebut tidak mengurangi kekagumannya terhadap keindahan alam Flores.
“Pemandangan alam dan wisatanya sangat bagus. Ini ke depan merupakan salah satu potensi yang luar biasa,” ujarnya.
Bayu juga mengakui bahwa kondisi geografis Flores menjadi tantangan tersendiri bagi personel yang menjalankan tugas di lapangan.
Ia menggambarkan jalur perjalanan yang penuh tikungan dan berkelok-kelok.
“Medannya memang seperti ular, banyak sekali belokan, tapal kuda. Kalau yang tidak kuat perjalanan panjang biasanya mabuk juga,” katanya.
Namun, pengalaman bertugas di sejumlah daerah sebelumnya membuat dirinya cukup terbiasa menghadapi medan seperti itu.
“Tapi karena saya sudah terbiasa, dulu saya di Kalimantan juga tempat tugasnya seperti itu, di daerah Bengkayang. Jadi ini merupakan tantangan juga bagi kita yang akan melaksanakan tugas di Flores,” ungkapnya.
Terkait kemungkinan dirinya kembali ditugaskan di Flores, Bayu menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan.
“Apakah nanti saya akan dipanggil kembali ke sini atau nanti ada pengganti saya, ini merupakan salah satu tantangan yang luar biasa dan harus disiapkan dari sekarang,” katanya.
Menutup keterangannya, Bayu menyampaikan pesan kepada masyarakat yang menjadi korban dan terdampak gempa bumi di Pulau Flores.
Ia meminta masyarakat tetap kuat, sabar, dan tidak kehilangan harapan dalam menghadapi masa pemulihan.
“Pesan untuk masyarakat korban yang terdampak dari gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 yang ada di Pulau Flores, khususnya, saya berpesan bahwasanya tetap semangat untuk bapak-bapak, ibu-ibu dan adik-adik,” tegas Bayu.
Ia juga meminta masyarakat mempercayakan proses penanganan dan pemulihan kepada pemerintah serta seluruh unsur yang terlibat.
“Percayakan kepada pemerintah bahwa kami secara bahu-membahu, secara komprehensif, sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing,” ujarnya.
Menurut Bayu, proses penanganan tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Tahapan berikutnya akan memasuki masa pra-pemulihan hingga pemulihan yang membutuhkan kerja bersama dan berkelanjutan.
“Setelah ini pada saat memasuki tahap prapemulihan maupun pemulihan, pasti akan melakukan kerja secara maksimal. Segala sumber daya yang dimiliki oleh kami akan kami gunakan,” katanya.
Ia berharap seluruh masyarakat terdampak dapat segera kembali menjalankan kehidupan secara normal dan membangun masa depan yang lebih baik.
“Sehingga nanti masyarakat ke depannya dapat pulih kembali, dapat beraktivitas seperti sediakala, dan dapat menata masa depan yang lebih baik dari yang kemarin,” pungkas Kombespol Dr. Bayu Suseno. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









