Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Di Balik Puing Pustu Bea Waek, Bidan yang Terluka Tetap Bertahan Melayani Warga Korban Gempa

Kontributor : Redaksi Editor: Tim Redaksi
  • Bagikan
f8eb0030 9afd 11f1 a9e7 7d4d14f9d6cc
Di Balik Puing Pustu Bea Waek, Bidan yang Terluka Tetap Bertahan Melayani Warga Korban Gempa. (foto : Dok. Isth).

“Bukan bangunannya, Tuhan, tapi cerita di dalamnya. Dan terima kasih untuk berkat Tuhan saya selamat dari tragedi gempa tersebut,” katanya.

Pustu itu, bagi Endang, bukan sekadar bangunan. Pustu adalah rumah. Pustu adalah tempat bekerja. Pustu adalah tempat berbagi cerita. Pustu adalah tempat masyarakat datang mencari pertolongan. Pustu adalah bagian dari perjalanan hidupnya sebagai seorang bidan.

“Pustu bukan hanya tempat kami kerja, tetapi itu rumah kami. Tempat kami curhat. Tapi sekarang semuanya tinggal cerita. Sebelum kejadian kami sempat bagi PMT,” ucapnya.

Kini semuanya berubah dalam hitungan detik. Tempat yang sebelumnya dipenuhi aktivitas pelayanan kesehatan berubah menjadi tumpukan puing. Barang-barang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masih tertimbun di bawah reruntuhan.

Laptop, Komputer, Printer, Dokumen-dokumen penting, Ijazah, Dompet, KTP. Hampir seluruh barang berharga miliknya berada di dalam bangunan yang runtuh.

“Sadis e, Kak. Saya punya barang-barang berharga sampai sekarang masih tertimbun bangunan. Saya punya laptop, komputer, printer, semua data-data, ijazah, dompet, KTP. Pokoknya nyawa di situ,” katanya.

Bagi sebagian orang, barang-barang tersebut mungkin hanya benda.

Namun bagi Endang, semua itu adalah bagian dari hidupnya, pekerjaannya, pengabdiannya, dan kenangan yang dibangun selama bertahun-tahun. Kini semuanya tertimbun bersama puing bangunan.

Berdasarkan pendataan dan verifikasi faktual di lapangan hingga Selasa, 18 Agustus 2026 pukul 18.55 WITA, jumlah korban akibat gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur tercatat sebanyak 449 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 25 orang meninggal dunia, 242 orang mengalami luka ringan, dan 182 orang mengalami luka berat.

Sementara secara keseluruhan, data sementara korban gempa yang dihimpun hingga waktu tersebut mencapai 608 orang, dengan rincian 70 orang meninggal dunia, 230 orang mengalami luka berat, dan 308 orang mengalami luka ringan.

Baca Juga :  Hari Kedua Operasi SAR Gempa Flores, Basarnas Perluas Pencarian ke Tiga Kabupaten

Angka-angka tersebut bukan sekadar deretan statistik. Di balik angka 70 orang yang meninggal dunia, ada keluarga yang kehilangan ayah, ibu, anak, saudara, atau orang yang mereka cintai.

Di balik angka ratusan korban luka, ada tubuh-tubuh yang masih merasakan sakit.

Dan di balik rumah-rumah yang runtuh, ada keluarga yang kehilangan tempat untuk pulang.

Hari pertama, kedua, hingga hari ketiga pascagempa menjadi masa yang sangat berat bagi masyarakat dan tenaga kesehatan.

Akses menuju sejumlah lokasi terdampak tidak mudah. Kondisi jalan terganggu, jarak antarwilayah cukup jauh, sementara sarana transportasi dan fasilitas kesehatan juga menghadapi keterbatasan.

Para dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya dipaksa bekerja dalam kondisi yang jauh dari ideal.

Pasien datang dalam jumlah besar.
Obat dan fasilitas harus dihemat.
Tubuh membutuhkan istirahat.
Namun keadaan tidak memberi banyak pilihan. Mereka harus tetap bekerja.

Dan kisah Endang di Bea Waek menjadi gambaran nyata bahwa dalam sebuah bencana, mereka yang berada di garis depan tidak selalu berdiri tanpa luka.

Kadang-kadang, orang yang sedang menyembuhkan luka orang lain juga sedang berusaha menyembuhkan luka dirinya sendiri.

Di tengah keterbatasan dan kondisi yang semakin berat, Endang menyampaikan harapan kepada pemerintah agar segera memberikan perhatian kepada masyarakat Desa Bea Waek, termasuk para tenaga kesehatan yang selama ini melayani warga di wilayah tersebut.

Dengan suara yang bergetar dan napas panjang, ia menyampaikan harapannya.

“Apakah pemerintah menutup mata untuk kami di Pustu Bea Waek dan Desa Bea Waek? Kalau memang pemerintah kabupaten tidak bisa, kami berharap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, tolong bantu kami,” pintanya.

Baca Juga :  Tangis di Antara Puing-Puing Gempa: 55 Nyawa Melayang, Manggarai Timur Masih Berduka

Permintaan itu bukan sekadar tentang membangun kembali sebuah gedung.

Lebih dari itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa mereka tidak sendirian menghadapi bencana.

Mereka membutuhkan makanan. Mereka membutuhkan tenda.
Mereka membutuhkan obat-obatan.
Mereka membutuhkan tempat yang aman.

Dan para tenaga kesehatan membutuhkan ruang pelayanan yang layak agar dapat kembali memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Sementara warga masih berjuang menyelamatkan kehidupan dari balik reruntuhan, waktu terus berjalan.

Di Bea Waek, sebuah Pustu telah berubah menjadi puing. Tetapi pengabdian para tenaga kesehatan belum runtuh.

Di bawah terpal yang diterpa panas dan hujan, Endang dan rekan-rekannya tetap berdiri.

Dengan tubuh yang masih lebam.
Dengan trauma yang belum hilang.
Dengan barang-barang berharga yang masih tertimbun. Dengan kehilangan yang belum selesai mereka tangisi.

Namun mereka tetap melayani. Sebab bagi mereka, menjadi tenaga kesehatan bukan hanya soal pekerjaan. Itu adalah panggilan kemanusiaan.

Dan di tengah Flores yang sedang berduka, dari sebuah tenda sederhana di Desa Bea Waek, perjuangan itu terus menyala.

Sebuah perjuangan yang mungkin tidak banyak terlihat kamera. Tidak banyak terdengar di tengah pemberitaan. Tetapi nyata dirasakan oleh warga yang datang mencari pertolongan.

Pustu boleh runtuh. Rumah boleh hancur. Barang-barang boleh tertimbun. Tetapi rasa cinta seorang bidan kepada masyarakat yang dilayaninya masih berdiri di tengah puing-puing.

Dan mungkin, di sanalah arti sesungguhnya dari sebuah pengabdian: tetap memilih bertahan dan melayani, bahkan ketika diri sendiri sedang terluka. **

  • Bagikan