“Kalau saya tahu rapat paripurna ini hanya sekadar seremoni dan anggota DPRD tidak diberi kesempatan berbicara, saya tidak akan hadir! Ini sudah tidak beres, hanya lembaga seremonial! Perampok semua! Tipu-tipu! Miu hebat apa?” teriaknya lantang.
Sayangnya, reaksi keras Lukas tidak mendapat respons dari anggota DPRD lainnya, khususnya dari Fraksi Perindo. Mereka memilih diam dan menyaksikan situasi tanpa memberikan tanggapan.
Situasi semakin memanas ketika Marselinus F. Ajo Bupu kembali berteriak, “Saya minta sidang ini dibubarkan saja! Tidak ada yang lebih hebat di Nagekeo!” Pernyataan ini makin memperkeruh suasana di ruang sidang.
Melihat ketegangan yang meningkat, sejumlah anggota DPRD lainnya segera mengerumuni Lukas Mbulang dan berusaha menenangkannya, meminta agar ia menghentikan adu mulut demi menjaga kondusivitas forum.
Menanggapi insiden ini, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Nagekeo, Anton Sukadame Wangge, menyatakan bahwa peristiwa tersebut hanyalah bagian dari dinamika politik di ruang sidang.
“Dinamika politik itu biasa,” ujar Anton Wangge singkat.
Meskipun insiden ini tidak sampai mengganggu jalannya sidang secara keseluruhan, peristiwa ini mencerminkan ketegangan politik yang masih kuat di DPRD Nagekeo pasca-pemilihan kepala daerah. ** (Stefan)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









