“Bapak dan Ibu adalah penyambung lidah kami. Hari ini mungkin yang hadir dari MPR hanya beberapa orang, tetapi melalui Bapak dan Ibu, materi ini bisa diteruskan kepada anak-anak kita,” tegasnya.
Ia berharap para guru dapat menjadi jembatan dalam membangun generasi muda NTT yang memiliki pengetahuan luas, keterampilan, karakter kuat, sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebangsaan.
Dalam sambutannya, Abraham juga menyinggung persoalan pembangunan sumber daya manusia dan kemiskinan yang masih menjadi tantangan di NTT.
Ia mengajak para guru untuk tidak pernah berhenti mendorong anak-anak NTT agar memiliki pendidikan dan keterampilan yang mampu membawa mereka keluar dari keterbatasan ekonomi.
“Bapak dan Ibu, kita harus membantu anak-anak kita supaya bisa keluar dari kemiskinan. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita tertinggal dari provinsi-provinsi lain,” katanya.
Ia menilai pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Karena itu, menurut Abraham, para guru memiliki tanggung jawab besar untuk membuka wawasan anak-anak agar berani bermimpi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Kalau kita pintar dan menguasai berbagai bidang, anak-anak kita bisa bersaing. Kita ingin anak-anak NTT tidak hanya menjadi penonton, tetapi bisa berdiri sejajar dengan anak-anak dari daerah lain, bahkan dengan masyarakat dari negara-negara maju,” ujarnya.
Ia juga mendorong agar anak-anak NTT diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mendapatkan informasi, pendidikan, dan pengalaman baru.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan keterhubungan dunia saat ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Jangan sampai anak-anak kita ketinggalan informasi dan ketinggalan belajar. Kalau ada kesempatan untuk belajar, untuk menjadi dokter, ahli teknologi, atau menguasai berbagai bidang lainnya, kita harus dorong mereka,” kata Abraham.
Lebih lanjut, Abraham berharap PGRI Kabupaten Manggarai Barat dapat terus menjadi mitra strategis dalam membangun pendidikan dan karakter generasi muda.
Ia menegaskan bahwa pembangunan NTT tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan semua elemen masyarakat, termasuk para guru.
“Citra NTT harus kita bangun bersama. Jangan hanya berharap kepada pemerintah. Kita semua punya tanggung jawab. Para guru punya peran besar untuk membawa perubahan melalui anak-anak didiknya,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada PGRI Kabupaten Manggarai Barat yang telah mengambil bagian dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut.
“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu semua. Mari kita manfaatkan waktu ini untuk mengikuti materi dengan baik. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini bisa memberikan manfaat bagi pendidikan dan masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta pemahaman mengenai tugas dan fungsi lembaga-lembaga negara.
Melalui kegiatan tersebut, MPR RI dan PGRI Manggarai Barat diharapkan dapat terus memperkuat pemahaman kebangsaan di lingkungan pendidikan sekaligus mendorong para guru menjadi agen pembentukan karakter generasi muda yang berintegritas, berpengetahuan, dan memiliki rasa cinta terhadap bangsa dan negara. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









