“Target kita sebanyak 59 akseptor, tetapi yang terlayani hanya 20 orang. Ada yang gagal saat screening kesehatan di RSUD Komodo, dan ada juga yang mengundurkan diri karena ragu-ragu,” jelasnya.
Padahal, pendaftar awal lebih dari 59 orang. Pelayanan MOW dilaksanakan sejak September hingga awal Desember, disesuaikan dengan ketersediaan dokter spesialis kandungan yang jadwalnya cukup padat.
Peserta MOW tahun ini berasal dari berbagai wilayah seperti Komodo, Kuwus Barat, Reok, Pacar, dan Boleng.
“Walaupun belum memenuhi target, menurut kami 20 orang yang bersedia itu sudah capaian luar biasa,” ungkap Rafael.
Pelayanan Medis Operasi Pria (MOP)/Vasektomi menjadi tantangan besar karena minimnya minat laki-laki.
“Target kami tiga orang, tetapi baru satu yang terlayani. Padahal lima orang sudah mendaftar, namun pada hari-H mereka gugup dan mengundurkan diri,” tutur Rafael.
Bahkan, ada peserta yang sudah tiba di rumah sakit dan berhadapan dengan dokter untuk konsultasi, tetapi akhirnya pulang karena takut.
Ia menjelaskan, pelayanan MOP baru bisa berjalan optimal tahun ini karena dokter urologi baru tersedia di Manggarai Barat.
Rafael juga menekankan pentingnya persetujuan pasangan dalam pelayanan KB metode operasi.
“Untuk vasektomi, wajib ada persetujuan istri. Sebaliknya, untuk MOW, suami harus memberikan persetujuan dan wajib mendampingi istrinya hingga ke depan ruang operasi,” terangnya.
Setelah operasi, akseptor MOW maupun MOP harus menginap satu malam di RSUD Komodo sebelum diizinkan pulang. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









