“Dari pengakuan temannya, beliau punya riwayat hipertensi. Tadi malam juga kurang istirahat, begadang bekerja,” lanjutnya.
Namun demikian, informasi mengenai riwayat kesehatan tersebut masih berdasarkan keterangan teman almarhum. Penyebab pasti meninggalnya Gregorius belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan informasi tersebut dan tetap menjadi ranah pemeriksaan medis.
Sosok Gregorius juga disebut memiliki latar belakang akademik. Menurut informasi yang disampaikan Paulus berdasarkan keterangan rekan almarhum, Gregorius merupakan seorang dosen di Universitas Katolik Atma Jaya sekaligus sedang menempuh pendidikan program doktor (S3).
Di tengah kesibukan akademiknya, ia memilih terlibat dalam kerja kemanusiaan di Flores untuk membantu masyarakat yang rumah dan bangunannya mengalami kerusakan akibat gempa.
Keberadaannya di Manggarai Barat menjadi bagian dari upaya para tenaga profesional untuk membantu pemerintah dan masyarakat melakukan pendataan serta pemantauan kondisi bangunan pascabencana.
Kepergian Gregorius secara mendadak di tengah tugas kemanusiaan tersebut meninggalkan duka bagi rekan-rekan satu tim, masyarakat yang tengah didampingi, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Paulus Ndarung memastikan bahwa informasi mengenai meninggalnya relawan tersebut telah dilaporkan kepada pimpinan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Laporan tersebut disampaikan kepada Bupati Manggarai Barat, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, serta jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Berkaitan dengan meninggalnya relawan tersebut, kami sudah melaporkan kepada pimpinan, dalam hal ini Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati Manggarai Barat,” ujar Paulus.
Ia juga menyampaikan laporan resmi mengenai kronologi kedatangan jenazah ke RSUD Komodo dan rencana keberangkatan jenazah kepada jajaran pimpinan daerah.
Jenazah Gregorius saat ini masih berada di ruang pemulasaraan jenazah RSUD Komodo dan direncanakan diberangkatkan pada Senin, 14 September 2026.
Meninggalnya Gregorius menjadi kabar duka di tengah perjuangan masyarakat Flores bangkit dari dampak gempa. Ia datang bukan sebagai korban, melainkan sebagai seorang profesional yang hadir untuk membantu warga memastikan kondisi rumah dan bangunan mereka setelah bencana.
Tugas kemanusiaan yang baru dijalankannya sehari sebelumnya itu kini berakhir dengan sebuah kehilangan. Di tanah Flores, Gregorius meninggalkan jejak pengabdian melalui kerja kemanusiaan yang dilakukannya bersama tim Ikatan Arsitek Indonesia. **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









