LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Kabar duka kembali menyelimuti rangkaian penanganan pascagempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang relawan yang tengah menjalankan tugas memantau kondisi kerusakan bangunan dan rumah warga terdampak gempa dilaporkan meninggal dunia saat berada di lokasi tugas di Kabupaten Manggarai Barat.
Relawan tersebut diketahui bernama Gregorius Agung Setyonugroho, berusia 44 tahun, asal Depok, Jawa Barat. Ia merupakan bagian dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang datang ke Manggarai Barat untuk membantu melakukan pemantauan dan penilaian terhadap kerusakan bangunan rumah warga pascagempa.
Gregorius menjalankan tugas di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Informasi duka tersebut dibenarkan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Komodo, Paulus Ndarung, S.Kep., Ners., M.Kes.
Paulus menjelaskan, Gregorius tiba di RSUD Komodo pada Minggu, 13 September 2026, sekitar pukul 16.20 WITA dalam kondisi Death on Arrival (DOA), atau sudah dalam keadaan meninggal dunia.
“Benar, ada salah satu relawan yang memantau kerusakan bangunan atau rumah dari Ikatan Arsitek Indonesia atas nama Gregorius Agung Setyonugroho, umur 44 tahun, asal Depok, Jawa Barat, dengan lokasi tugas di Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling,” ujar Paulus.
Menurutnya, berdasarkan keterangan teman yang mengantar, Gregorius sebelumnya dilaporkan tidak sadarkan diri sekitar pukul 15.40 WITA. Ia kemudian dibawa ke RSUD Komodo untuk mendapatkan penanganan.
“Pada pukul 16.20 WITA hari ini tiba di RSUD Komodo dalam kondisi Death on Arrival atau sudah meninggal dunia. Dari keterangan teman yang mengantar, yang bersangkutan tidak sadarkan diri sekitar pukul 15.40 WITA,” jelasnya.
Setelah tiba di rumah sakit, jenazah Gregorius langsung mendapat penanganan sesuai prosedur dan kemudian ditempatkan di ruang pemulasaraan jenazah RSUD Komodo.
“Saat ini jenazah sudah dilakukan perawatan dan berada di ruang pemulasaraan jenazah. Rencananya akan diberangkatkan besok,” kata Paulus.
Gregorius diketahui baru tiba di Kabupaten Manggarai Barat pada Sabtu, 12 September 2026. Setelah tiba, ia bersama tim langsung menuju Desa Tondong Belang untuk melaksanakan tugas kemanusiaan berupa pemantauan kondisi bangunan dan rumah warga yang terdampak gempa.
Tim dari Ikatan Arsitek Indonesia tersebut sebelumnya telah melaporkan kedatangan dan keberadaan mereka kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.
Paulus mengatakan, berdasarkan informasi dari rekan Gregorius, almarhum disebut memiliki riwayat hipertensi. Selain itu, pada malam sebelum kejadian, Gregorius disebut kurang beristirahat karena harus menyelesaikan pekerjaan.
“Saya mendapat informasi bahwa beliau tiba tanggal 12 kemarin dan langsung ke Desa Tondong Belang. Mereka dari Ikatan Arsitek Indonesia dan ketika datang telah melapor diri ke Pemda,” ungkap Paulus.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









