LABUAN BAJO, NTTNEWS.NET – Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Nagekeo dan sejumlah wilayah di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut dan menimbulkan korban jiwa serta kerusakan bangunan di berbagai tempat.
Bencana itu tidak hanya meninggalkan puing-puing bangunan dan luka di tubuh para korban, tetapi juga menyisakan kesedihan yang begitu dalam bagi keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta.
Di tengah kepanikan dan ketidakpastian, para korban masih terus membutuhkan pertolongan, sementara tim pencarian dan pertolongan berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan mereka yang mungkin masih tertimbun atau terjebak.
Di balik hiruk-pikuk operasi kemanusiaan tersebut, ada perjuangan panjang para tenaga kesehatan yang tidak banyak terlihat. Mereka berdiri di garis terdepan, merawat korban dengan keterbatasan fasilitas, tenaga, obat-obatan, hingga kondisi medan yang tidak mudah dijangkau.
Berdasarkan pendataan dan verifikasi faktual di lapangan hingga Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 14.00 WITA, jumlah korban akibat gempa bumi tersebut tercatat sebanyak 51 orang meninggal dunia, sementara 132 orang lainnya mengalami luka berat maupun luka ringan.
Angka tersebut bukan sekadar deretan data. Di balik setiap angka terdapat nama, keluarga, kisah hidup, dan harapan yang tiba-tiba terputus akibat bencana.
Hari pertama dan kedua pascagempa menjadi masa yang sangat berat bagi para tenaga medis. Di sejumlah wilayah terdampak, akses menuju lokasi tidak mudah. Kondisi jalan yang terganggu, jarak antarpulau dan wilayah, serta keterbatasan sarana membuat proses pelayanan kesehatan berlangsung dalam situasi penuh tekanan.
Para dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya harus bekerja dengan kondisi yang jauh dari ideal. Mereka menghadapi pasien dalam jumlah besar, sementara tubuh sendiri membutuhkan istirahat.
Namun, panggilan kemanusiaan membuat mereka tetap bertahan.
Salah satu sosok yang menjadi gambaran perjuangan tersebut adalah dr. Melinda dari Puskesmas Dampek. Bersama tenaga kesehatan Puskesmas Dampek, ia berada di tengah masyarakat dan memberikan pelayanan kepada begitu banyak korban gempa yang membutuhkan pertolongan.
Dalam kondisi seperti itu, seorang dokter tidak hanya dituntut memberikan pelayanan medis, tetapi juga harus menjadi sumber ketenangan bagi masyarakat yang sedang dilanda kepanikan.
Pasien datang silih berganti. Ada yang mengalami luka akibat tertimpa material bangunan, ada yang membutuhkan penanganan segera, dan ada pula keluarga yang datang dengan wajah penuh kecemasan mencari pertolongan bagi orang yang mereka cintai.
Dr. Melinda dan para tenaga kesehatan Puskesmas Dampek pun harus terus bekerja.
Keterbatasan waktu untuk beristirahat menjadi konsekuensi yang harus mereka terima. Bahkan dari sorot mata dr. Melinda, kelelahan itu seolah tidak bisa disembunyikan. Mata yang tampak berat menjadi saksi bahwa tubuhnya telah melewati hari-hari panjang tanpa cukup istirahat.
Namun, di balik kelelahan tersebut terdapat keteguhan untuk tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dalam situasi bencana, masyarakat sering kali melihat siapa yang datang membawa bantuan, siapa yang melakukan evakuasi, dan siapa yang berada di lokasi pencarian korban.
Namun, ada perjuangan lain yang berlangsung tanpa banyak sorotan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









