Menurutnya, moto tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan seremonial, tetapi harus diwujudkan dalam sikap hidup setiap kader.
“Semangat Pro Ecclesia et Patria bukan sekadar slogan yang indah di spanduk kegiatan. Demi Gereja berarti menghadirkan kasih, perdamaian, penghormatan terhadap manusia, dan keberanian memperjuangkan kebenaran. Demi Tanah Air berarti membangun kehidupan yang demokratis, adil, serta menghargai perbedaan. Karena itu, kekerasan fisik jelas bertentangan dengan semangat tersebut,” tegasnya.
Carles juga mengingatkan bahwa spiritualitas PMKRI selama ini dibangun di atas tiga nilai utama, yakni Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas.
Menurutnya, ketiga nilai itu seharusnya menjadi pedoman dalam setiap dinamika organisasi.
“Kristianitas mengajarkan kasih dan penghormatan terhadap sesama. Intelektualitas berarti menjadikan pikiran sebagai alat perjuangan utama. Fraternitas berarti memandang sesama kader sebagai saudara, bukan musuh yang harus dihancurkan. Persaudaraan sejati justru terlihat ketika kita mampu menghormati orang yang berbeda pandangan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai mahasiswa selama ini dikenal sebagai kelompok yang vokal mengkritik berbagai bentuk kekerasan negara, penyalahgunaan kekuasaan, maupun pendekatan militeristik dalam kehidupan demokrasi.
Karena itu, menurut Carles, mahasiswa juga harus berani melakukan kritik terhadap dirinya sendiri.
“Bagaimana mahasiswa dapat menolak budaya kekerasan dalam kehidupan bernegara jika dalam ruang organisasinya sendiri masih menggunakan logika kekerasan? Menolak militerisme berarti menolak cara berpikir yang menganggap kekuatan sebagai jalan utama menyelesaikan masalah. Mahasiswa harus menunjukkan bahwa dialog, musyawarah, argumentasi, dan penghormatan terhadap manusia adalah jalan yang lebih bermartabat,” katanya.
Ia berharap insiden yang terjadi dalam Kongres PMKRI di Ruteng dapat dijadikan momentum evaluasi dan pembenahan bagi seluruh kader maupun pengurus organisasi.
Menurutnya, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari konflik, melainkan organisasi yang mampu mengelola konflik tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
“Tidak ada kemenangan yang layak dirayakan jika kemenangan itu meninggalkan luka dan merusak persaudaraan. Tidak ada keputusan organisasi yang lebih penting daripada menjaga martabat manusia. Perdebatan boleh keras, kritik boleh tajam, perbedaan boleh besar, tetapi tangan tidak boleh menggantikan pikiran,” pungkas Carles.
Ia menutup refleksinya dengan sebuah pesan yang dinilai relevan bagi seluruh organisasi kemahasiswaan di Indonesia.
“Dinamika forum adalah keniscayaan, tetapi dinamika forum tidak mesti berdarah. Kekuatan sejati mahasiswa bukan terletak pada kemampuan menundukkan orang lain dengan kekerasan, melainkan pada kemampuan memperjuangkan kebenaran melalui akal budi, keberanian moral, dan persaudaraan.” **
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









