NAGEKEO, NTTNEWS.NET – Harapan kembali tumbuh di tengah duka warga Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang hingga kini masih hidup dalam ketidakpastian setelah gempa bumi mengguncang Pulau Flores.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung dan berkumpul bersama keluarga, kini berubah menjadi bangunan retak, rusak, bahkan sebagian tidak lagi layak ditempati. Banyak warga terpaksa meninggalkan rumah dan bertahan di lokasi pengungsian dengan kondisi serba terbatas.
Di tengah kesedihan tersebut, kedatangan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Kabupaten Nagekeo, Rabu (26/8/2026), membawa secercah harapan bagi masyarakat yang terdampak.
Presiden meninjau langsung Posko Terpadu Penanganan Gempa di Lapangan Berdikari Danga, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Dalam kunjungan itu, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan warga menghadapi sendiri dampak bencana yang telah merusak rumah, mengganggu aktivitas, dan memaksa banyak keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Di hadapan warga terdampak dan para pengungsi, Prabowo memastikan pemerintah akan segera melakukan pendataan terhadap rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.
“Negara hadir di sini. Kita pastikan semua kebutuhan dasar saudara-saudara kita terpenuhi. Untuk rumah yang rusak akan segera kita data dan bantu perbaikannya,” tegas Presiden.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi warga yang selama berhari-hari harus hidup di tengah keterbatasan. Bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan, tetapi tempat menyimpan kenangan, harta benda, dokumen penting, serta kehidupan keluarga yang selama ini dibangun bertahun-tahun.
Kini, sebagian rumah itu hanya menyisakan dinding retak dan puing-puing. Sebagian lainnya masih berdiri, namun penuh keretakan sehingga warga takut kembali untuk tidur di dalamnya.
Kedatangan Presiden menjadi momen penting bagi warga Nagekeo yang masih berada di pengungsian. Mereka berharap janji pemerintah tersebut benar-benar segera diwujudkan sehingga dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Pendataan kerusakan menjadi langkah awal yang sangat penting. Pemerintah harus memastikan setiap rumah terdampak tercatat dengan baik, sehingga bantuan perbaikan dapat diberikan secara tepat sasaran dan tidak ada warga yang terlewat.
“Kami berharap rumah-rumah yang rusak segera didata. Kami ingin kembali ke rumah, tetapi kalau kondisinya belum aman, kami juga takut. Yang kami inginkan hanya tempat tinggal yang aman untuk keluarga kami,” demikian harapan warga terdampak yang menggambarkan keresahan masyarakat pascagempa.
Bagi warga yang kehilangan rasa aman di rumah sendiri, masa pengungsian bukanlah perkara mudah. Anak-anak harus tidur di tempat pengungsian, orang tua harus memikirkan makanan dan kesehatan keluarga, sementara sebagian warga masih dihantui ketakutan setiap kali terjadi getaran susulan.
Karena itu, bantuan perbaikan rumah menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang sangat dinantikan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









